Thursday, March 5, 2009

Rumah Sakit?

Dulu kala ada tempat dimana ketidak berdayaan ada. Tak ada satupun orang yang ingin datang ketempat ini dengan suka rela. Namun tempat ini pulalah orang mengenal hakikat dirinya yang lemah. Berharap ada keajaiban dari keberadaan tempat ini. Berharap Tuhan bersamanya. Bagi pengelola tempat ini , semua orang diperlakukan sebagai first class. Dilayani dengan keramahan dan senyum. Itu sebabnya nama tempat ini adalah Hospital yang merupakan padanan kata dari keramahan atau hospitality. Kata hospitality sendiri berasal dari hospes ( Latin) yang berarti adalah tuan rumah. Karena dulu umumnya pemilik Tempat keramahan ini adalah para orang suci yang hidup dari membantu orang lain karena sakit. Orang menyebut dirinya adalah hospes dan tempat dia merawat yang sakit disebut hospital yang penuh dengan hospitality ( keramahan )

Orang bijak berkata bahwa bahasa menentukan karakter budaya bangsa. Di belahan negara maju seperti di Eropa dan As, para medis dan seluruh lini management Hospital dipaksa untuk memahami system keramahan ini. Mereka melekat dengan kata dari hospital untuk hospitality. Bila kita menyebut tempat perawatan orang sakit adalah Rumah Sakit maka yang dipahami adalah rumah penampungan orang sakit. Manusia dianggap benda mati. Makanya tak aneh bila tak tampak disini ada pelayanan keramahan seperti tempat orang suci mengabdikan hidupnya untuk mengurus orang lain. Mungkin terlalu berharap ada ketulusan dari paramedis disini. Kelas terbentuk dalam system pelayanan. Semuanya berbicara soal uang dan tariff.

Di Indonesia , entah mengapa tempat merawat orang sakit disebut sebagai “ Rumah Sakit”. Dari dua suku kata yang teridiri dari “ Rumah “ dan “ Sakit”, orang mengartikan bahwa ini adalah tempat orang sakit. Tapi bagi pelayanan kesehatan yang murah meriah penuh subsidi dizaman Soeharto ,tempat ini disebut Puskesmas. Tidak ada kata tentang Rumah Sakit. Kalau kemudian orang mengartikan bahwa puskesmas itu adalah Rumah Sakit berukuran kecil dan tak layak disebut sebagai Rumah Sakit, maka disebutlah itu sebagai Klinik. Tapi Aisyiah, dari dulu sejak zaman Soeharto mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak ( BKIA). Ini sejenis yang namanya klinik tapi Aisiyah menyebutnya Balai. Dalam bahasa Indonesia , Balai itu sendiri berarti adalah lembaga yang lebih bertujuan social, yang membedakan dengan lembaga profit.

Bukankah hakikat penyakit sebetulnya karena manusia sedang dicoba oleh Allah untuk sabar dan ikhlas. Cobaan itu tidak hanya kepada sisakit tapi juga kepada yang sehat. Dua pihak harus mempunyai sifat sabar dan ikhlas. Lantas apa jadinya bila orang sakit tertekan batinnya karena system yang tak lagi ada keikhlasan. Seharusnya ada satu perubahan system yang lebih kepada pelayanan dan keramahan bagi si sakit. Terlepas dia kaya atau miskin. Keramahan tersebut bukan hanya senyuman tapi lebih daripada itu adalah menempatkan posisi sisakit pihak yang membutuhkan pertolongan lahir batin. Dengan pelayanan penuh dedikasi dan tulus bagaikan orang suci maka sebetulnya sudah memberikan efek sembuh 90% kepada sisakit. Selebihnya adalah upaya medis untuk membuat sisakit sembuh sempurna.

Dalam konteks globalisasi , kini Rumah Sakit sudah menjadi bagian integral dari business raksasa industri pharmasi termasuk peralatan kedokteran. Dari business pharmasi ini melebar kepada business asuransi kesehatan. Semuanya menyatu dalam satu system untuk menciptakan laba lewat memeras. Dalam WTO semua komoditi dunia harus di disclose soal harga pokoknya tapi soal obat obatan yang sudah dipatenkan ( cara kapitalis ) maka harga pokok tidak boleh diketahui oleh siapapun. Maka jangan terkejut ketika AS dan Barat marah besar kepada China yang berhasil membuat obat sejenis Viagra seharga RMB 2 ,padahal Viagra buatan AS dan Barat seharga USD 5 atau 15 kali lebih mahal dari obat buatan china yang sejenis. Begitupula dalam hal peralatan kedokteran, dimana China bisa menjual dengan harga hanya 10% dari harga buatan AS dan Barat. China pun dituduh melakukan dumping harga.

Perusahaan asuransipun sudah menyatu sebagai promotor terjualnya obat bercertifikasi FDA. Karena bukan rahasia lagi bahwa hampir semua perusahaan asuransi local me-reasuransikan jasanya kepada perusahaan asuransi International. Hanya obat yang bersertifikasi FDA saja yang bisa dibayar oleh asuransil. Sementara obat obatan sejenis herbal tidak diakui sebagai pertanggungan asuransi. Disamping itu , teknik promosi dengan system komisi kepada dokter yang berhak mengeluarkan resep obat, juga berperan penting membuat dahsyatnya pertumbuhan industri pharmasi. Tak perduli betapa tidak terjangkaunya harga obat bagi orang miskin

Pemerintah atau siapapun yang peduli terhadap pelayanan kesehatan maka sudah seharusnya system yang menempatkan Rumah Sakit sebagai institusi kapitalis dirubah. Perubahan tersebut haruslah meliputi kemampuan bangsa untuk memproduksi sendiri obat dalam bentuk herbal atau lepas dari produksi obat yang sudah dipatenkan oleh pihak industri parmasi asing yang rakus... Herbal, disamping harganya murah, juga tidak punya efek sampingan. Juga tentu akan mempunyai multiplier effect terhadap kesejahteraan petani dan masyarakat untuk mendapatkan hasil dari apotik hidup ini. Mungkin hasilnya belum akan sehebat kata orang bila menggunakan obat modern. Tapi harus ada keyakinan untuk memulai , bahwa kemandirian adalah segala galanya dan bukankah nyawa ditangann Allah. Allah telah menyediakan alam semesta ini untuk manusia termasuk obat sebagai pelindung manusia dari penyakit.

Nama Rumah Sakit untuk orang sakit harus diganti menjadi Balai Kesehatan Umat, yang lebih bernuansa social. Standard Operating Procedure penanganan pasien pun harus diperbaiki agar tidak berkiblat kepada pihak Barat / AS. Kita butuh jaringan Balai Kesehatan ala pengobatan Indonesia yang berasal dari kekuatan budaya turun temurun bangsa sendiri. Kalau Balai Kesehatan ini dapat dibangun secara luas di Indonesia dengan perubahan system , maka solusi kesehatan lahir dan batin bagi siapa saja bukan lagi impian.

1 comment:

Anonymous said...

yth pak jeli yang dirahmati alloh

subhanalloh,tulisan pak jeli tentang rumah sakit,menjadikan saya sangat senang sekali paling tidak pak jeli adalah sedikit dari wakil masyarakat yg merasakan apa yang terjadi bila keluarga mengalami sakit ,terkait pelayanan dan beban biaya yg harus ditanggung oleh pasien dan keluarga.saya bisa membayangkan ayahnda pak jeli sakit dimana pak jeli yg undertake pembiayaan juga merasakan ketidakberdayaan apalagi 40% masyarakat miskin indonesia yg untuk makan saja tidak sanggup,bagaimana bila sakit ? bagaimana pula masyarakat yg tdk miskin yg jumlahnya banyak bisa mencapai 45 % bila sakit langsung akan jatuh miskin.dan ini kami temukan hampir setiap hari.dan bila dianalisa,ternyata pembiayaan dirumah sakit diperoleh data sbb :
1.obat posisinya 45 % s/d 65 % dari biaya rawat inap.
2.kamar hanya 20 % dari rawat inap
3.kamar hanya 9 % dari pendapatan rumah sakit
4.alat kesehatan bisa mencapat 19 %
baik berupa sewa medical equipment selama perawatan maupun medical supply barang habis pakai.
5.jasa dokter dan perawat sekitar 10

benar yg dikatakan pak jeli tentang obat obatan dan peralatan dam med supply adalah sesuatu yg bisa di intervensi karena bila ditotal akan mencapai 70 s/80 % adalah sangat signifikan akan membawa perubahan menekan pembiayaan.


inilah dasarnya kenapa saya siap bergabung dengan gerakan as shaff akan menjadikan keberadaan saya menjadi lebih bermanfaat karena apa yg terjadi dilingkungan kerumahsakitan dan klinik pada umumnya,transaksinya adsalah seperti yg kita lihat saat ini,termasuk yg ada dalam lingkungan muhammadiyah,aisyiyah dan rs islam sekalipun.karena saya menemukan beberapa hal sebagai jawaban :
1.perjalanan saya study banding kebeberapa hospital,di belanda,jerman,korea,jepang,malaysia,thailand,singapura,danjuga melihat pabrik di beberapa negara termasuk china dan korea,memberikan informasi bahwa,sebenarnya ada beberapa alternatif peralatan bagus namun murah yg dapat kita gunakan untuk reduction cost.kenapa masuk ke indonesia mahal,ini adalah system yg harus kita potong,karena tdk adil.karena hanya di kelola tdk lebih 200 distributor,dengan system kartel

2.riset saya tentang pabrik obat yg melakukan riset,ongkos produksi 26 % ,bahkan obat tertentu hanya 7 %,sedang di delivery sampai mansyarakat akan mencapai 120 %.tentu ini menjadi tdk adil,namun masyarakat tdk berdaya.ini diperkuat penguncian dgn product yg harus memenuhi syarat FDA.dan indonesia sangat patuh,disamping riset adalah pekerjaan yg kurang menarik dan hal ini berdampak pada kita menjadi bangsa pemakai technologi dgn biaya yg mahal pada akhirnya.

3.pengamatan tentang product beberapa medical supply/barang habis pakai,ada beberapa yg dapat kita relokasi pabriknya/relatif mudah shg akan dapat menjadikan kegiatan riset akan menarik dilakukan diindonesia dgn menerapkan inti konsep bencmarking " LIHAT,TIRU, DAHULUI "

pengamatan pak jeli,visi kesehatan as shaff,adalah TOTAL SOLUTION PROVIDER adalah sdh tepat,yaitu kita punya rentang hulu hilir sbg bidang garap,untuk menyelesaikan permasalahan/ketidak adilan system dalam kesehatan.dan ini adalah project besar,tantangan juga besar,butuh dana yg besar,personil sesuai competensi yg tepat,namun saya yakin,krn diniatkan dgn hati yg ichlas mengatasi pembiayaan kesehatan masyarakat luas /orang banyak,saya yakin alloh akan membantu kita dengan kemudahan.

strateginya adalah penerapan Total Solution Provider :

I.health care management system.kita akan terapkan system management yg efektif dalam jaringan pelayanan kesehatan as shaff,baik IT,HRD,SOP,Management Logistik,service dll dgn standar yg mengacu pada "Saya Bahagia Jika Karena Saya Orang Lain Bahagia "

II.reseacher Provider
kita dapat lakukan take over pabrik obar yg mati,namun ada izin dan register obat,kemudian kita revitalisasi dan sekaligus kita jadikan pusat riset obat konvensional bernilai tambah dan obat herbal dari kekayaan bumi indonesia.

III.Technology Provider
tahap pertama,kita arahkan sbg pengadaan alat medis murah,krn akan kita distribusikan ke beberapa jaringan kesehatan as shaff,tahap berikutnya adalah relokasi pabrik dan atau kerjasama dgn pihak korea/china,selanjutnya produksi secara mandiri bila sdh memungkinkan dari segi SDM,bahan baku dan pendukung lainnya

IV.Financial Provider
fakta dilapangan,banyak rs di indonesia ,alat tdk memenuhi syarat mulai dari puskesmas sampai rs rujukan dikabupaten/kota .dan ini berdampak pada systen rujukan yg tdk efektif,shg rs rujukan akan crowded,berdampak memberi pelayanan tdk baik,dan orang berduit lari keluar negeri.padahal kalau mereka berobat di indonesia akan terjadi subsidi silang yg kaya dan yg miskin,artinya bila kesehatan as shaff dapat menyediakan dana /akses dana u/revitalisasi alat kesehatan dan medical supply dgn murah dan bisa dipasok dari as shaff sendiri,ini akan menjadikan pelayanan kesehatak klini/balai kesehatan masyarakat akan lebih berdaya,shg rujukan akan dapat diminimalisir,shg rs rujukan akan berperan lebih selektif pada kasus yg lebih berat namun pelayanan nyaman dan murah/terjangkau

dari penamaan,ini tertuang di pedoman peraturan pemerintah,namun upaya merubah nama rs sakit menjadi rs sehat sdh ada upaya,dan trend saat ini adalah banyak sdh beralih dari rs sakit,menjadi hospital atau medical center.
bilakita mendirikan klinik umum dan gigi,atau praktek dokter maka ituberbentuk balai kesehatan masyarakat.

semoga ini sedikit memberi tambahan informasi dan makin memperkokoh kita berjuang demi ummat.selamat memerankan peran yg alloh skenariokan pada kita,smg ini menjadi jalan kita menuju keridhoan alloh swt.

wassalam
dr.isnaini

MLA ( Mutual Legal Asisstance )

Kalau mengacu kepada Tax Justice Network’s new Financial Secrecy Index , diperkirakan dana haram yang tersembunyi di negara bebas pa...