Wednesday, November 25, 2009

Siapa yang diuntungkan ?

BPK telah memberikan laporan hasil auditnya kepada DPR ( rakyat ). Sehari setelah laporan itu dipublikasikan kepada masyarakat , Menteri Keuangan melakukan publikasi tentang berbagai alasannya. Lihatlah sikap aparat negara kita; BPK mengatakan bahwa penyaluran dana untuk Bank Century melanggar ketentuan Bank Indonesia. Menteri Keuangan berkata bahwa “ keputusan itu sudah tepat “. Entah mana yang benar nantinya. Habis KPK dan POLRI bertikai, kini perseteruan antara BPK dan Menkeu/BI dimulai. Publik bingung karena di negeri ini tidak ada kamusnya orang salah mengakui kesalahan . Apalagi bila kesalahan itu dari pejabat negara. Semua punya alasan untuk berkelit dan akhirnya dilupakan.

Dengan memeprhatikan laporan audit BPK dan sanggahan menteri keuangan , saya ingin mempersempit tanggapan atas sikap yang melandasi keputusan Menteri keuangan selaku ketua KKSK. Intinya menteri keuangan menegaskan bahwa keputusan diambil dalam rangka mengeliminir dampak negatif dari pengaruh sistemik terhadap stabilitas keuangan dan moneter. Maklum saja system kita menyatu dengan system keuangan global. Ketika keputusan diambil memang keadaan keuangan global dihantam badai gelombang krisis keuangan dengan ditandai oleh rontoknya Lehman Brother dan beberapa fund manager kelas dunia. Keadaan ini membuat semua negara pemuja kapitalis panik.

Memang sangat terasa ketika itu kepanikan besar melanda seluruh dunia. Kita melihat suku bunga dollar di pasar keuangan internasional naik hampir empat kali lipat karena semua bank menghentikan transaksi pinjam meminjam karena kekhawatiran akan ada kebangkrutan susulan. Kurs, saham, dan obligasi sejumlah negara amblas. Di Indonesia, kepanikan serupa terjadi di pasar keuangan. Kondisi ekonomi Indonesia saat itu dalam keadaan gawat darurat. Di saat itulah , Bank Century menghadapi “sakratul maut”. Pilihannya adalah menutup bank itu atau menyelamatkannya. Permasalah ini memang dilemma dan tidak mudah.

KIta sudah ada lembaga yang bertugas untuk memberikan jaminan atas kerugian nasabah akibat gagal bayar bank yaitu lewat LPS atau di AS disebut dengan FDIC=Federal Deposit Insurance Co0rporation. Lembaga inilah yang dipaksa untuk melakukan bail out terhadap masalah bank centry. Masalah bank century sudah terdeteksi lama sebelum terjadinya krisis global. Seharusnya ketika assetnya masih diatas 100% dari kewajibannya, penyelamatan dilakukan. Tapi BI sebagai lembaga pengawas seakan membiarkan keadaan Bank Century. Bahkan berbagai masalah yang muncul , BI ikut terlibat memberikan solusi , yang kadang bertentangan dengan aturan yang dibuat BI sendiri. Dan penyelamatan baru dilakukan setelah asset century sudah dibawah nilai kewajibannya.

Bila akhirnya pemerintah terpaksa membuat keputusan menyelamatkan Bank Century dengan dana diatas Rp. 6 triliun maka itu sebetulnya bagian dari ( mungkin ) rekayasa BI untuk menjadikan pemerintah sebagai pihak pesakitan untuk menyelamatkan sesuatu yang tidak perlu diselamatkan. Keadaan krisis global dijadikan momentum untuk memeras pemerintah untuk tujuan penyelamatan. Situasi ini selalu terjadi dibelahan dunia manapun. Dimana ketika krisis terjadi kadang Bank yang sehatpun dapat berubah cepat jadi sakit. Tentu tujuannya untuk mendapatkan dana talangan itu.

Namun yang patut dipahami bahwa dibelahan dunia manapun tindakan penyelamatan itu hanya diberikan kepada bank yang secara system jatuh karena system yang dicreated oleh pemerintah dan selalu asset bank yang yang diselamatkan diatas nilai kewajibannya. Tapi dalam kasus bank century ini beda sekali. Bank ini jatuh bukan karena system tapi memang culas. Para pemegang sahamnya memang kriminal dan ditambah lagi pengawasan BI juga dilakukan oleh orang yang culas. Secara hukum sikap BI dan KKSK tetap melanggar hukum Namun secara makro demi kepentingan yang lebih besar maka tindakan itu dibenarkan.

Masalahnya bukan soal salah atau benar. Tapi siapa yang mendapatkan keuntungan dari situasi ini.. Itulah yang ingin rakyat ketahui. Karena Rp. 6 triliun lebih bukanlah jumlah kecil. Tapi apa daya BPK tidak dapat mengetahui aliran dana itu karena PPATK tidak bisa memberikannya.

Saturday, November 21, 2009

TIKUS


Tentu kita semua sudah tahu apa itu tikus. Dalam bahasa inggeris disebut ”rat ” atau dalam bahasa latin disebut ”rattus ”. Tidak ada satupun orang senang bila melihat tikus. Namun bagaimanapun tikus tergolong makhlulk mamalia atau sama dengan kita. Secara biologis tidak ada perbedaan antara tikus dan manusia. Makanya berbagai riset ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pharmasi selalu menggunakan tikus sebagai ”percobaan ” sebelum obat dikonsumsi kepada manusia.

Ada tiga hal yang membuat tikus menimbulkan masalah bagi manusia. Yaitu pertama, tikus cepat berkembang biak.. Dalam waktu setahun, sepasang tikus mampu berkembang biang menjadi 1270 ekor (635 pasang). Setiap ekor dapat melahirkan 2 – 18 ekor dengan rata-rata 8 ekor setiap kelahiran. Kedua, tikus memakan apa saja dan tak berhenti mengerat. Binatang ini juga termasuk yang mampu melakukan kanibalisme. 3. Tikus, tak suka berpoduksi yang bermanfaat bagi manusia seperti lebah atau ulat sutra. Pekerjaannya hanyalah merusak lewat memakan apa saja. Ketiga sifat inilah yang membuat lingkungan manusia tidak aman bila ada tikus. Banyak sawah petani hancur karena dimakan tikus. Banyak perabotan rumah tangga rusak karena dikerat oleh tikus.

Tikus juga termasuk binatang yang berinteligensia tinggi dikelasnya. Artinya, tikus termasuk rat (hewan pengerat) lebih pandai dan cerdik terutama dalam adaptasi terhadap lingkungan hidup maupun dalam mencari makanan. Tikus memiliki kemampuan “belajar” dimana mereka dengan mudah mampu membedakan mana saja yang biasa dihadapi, dialami dan dilakukan dengan mana yang asing buat mereka. Namun demikian hewan ini termasuk hewan yang pemalu/penakut apalagi bila melihat sesuatu yang asing dalam wilayahnya. Sebagai contoh, bila seekor tikus terkena perangkap yang dipasang atau mati karena memakan umpan yang disediakan, sementara tikus lain melihat tikus tersebut, maka mereka tidak akan mendekati perangkap apalagi memakan kembali makanan umpan tersebut. Ini menunjukkan bahwa menangkap tikus menggunakan perangkap memerlukan keterampilan khusus, karena tikus ini tidak mudah tergoda oleh perangkap yang sering kita gunakan.

Makanya tak berlebihan bila para koruptor itu disamakan dengan tikus. Karena kemampuan inteligensia diatas rata rata manusia biasa. Koruptor suka makan apa saja dan tak peduli bila itu harus mengorbankan temannya sendiri. Hebatnya koruptor itu cepat sekali berkembang biak pengaruhnya dalam bentuk budaya dan sikap terhadap orang lain. Keluarga , anak, teman serta lingkungan akan cepat sekali menjadi komunitas untuk mengikuti budaya korup ini. Sebagaimana tikus yang rakus menyimpan makanan yang dicurinya, maka koruptor juga rakus menyimpan hasil korupnya dibank bank luar negeri. Simpanan itu tidak akan dimakannya kecuali dipandangi untuk terus ditumpuk selagi ada kesempatan untuk dikorup.

Untuk membasmi Tikus tidaklah mudah.Walau pagar sawah dibuat tinggi 30 cm namun tikus mampu melompat setinggi 90 cm. Walau KPK dibuat namun koruptor mampu melewati diatas kekuatan KPK. Walau parit disediakan sebagai perangkab tidak ada gunanya karena tikus mampu berenang selama 72 jam. Walau aturan hukum ketat menjerat koruptor tak ada gunanya karena koruptor mampu menembus celah celah hukum sampai ketingkat puncak kekuasaan. Cina menerapkan hukuman mati bagi koruptor namun sampai kini masih saja setiap hari rata rata 5000 koruptor dihukum mati.

Lantas bagaimana mengatasi tikus atau koruptor itu ? Caranya adalah ciptakan lingkungan besih. Tikus tidak bisa hidup dilingkungan yang bersih. Itu sunatullahnya. Begitupula, koruptor tidak bisa bidup dilingkungan orang yang berakhlak tinggi , menghormati hak orang lain, gotong royong dalam keberasamaan serta menjadikan agama sebagai jalan hidup untuk kedamaian dan keselamatan. Kita memang harus menerima kenyataan karena kita hidup dari generasi yang kotor. Sudah seharusnya kita memulai gerakan untuk hidup bersih lewat pendidikan kepada anak anak kita agar kelak lahir generasi yang bersih. Itu saja.

Wednesday, November 18, 2009

Kesederhanaan

Ada pengalaman menarik ketika saya bermaksud untuk mengundang makan malam pejabat China di Shenzhen. Pejabat ini adalah salah satu direktur BUMN yang asetnya diatas Rp. 100 triliun rupiah. Tentu saya memilih tempat yang berkelas sesuai dengan posisinya. Namun dia menolak secara halus dan menyarankan untuk makan malamnya ditempat langganannya. Betapa saya terkejut karena tempat yang dimaksudnya adalah terlalu sederhana bila dibandingkan dengan kelasnya. Selama maka malam itu dia nampak tersenyum milirik salah satu pelayan yang cantik. Saya pikir teman ini sedang naksir pelayan itu. Ternyata setelah usai makan malam, dia memperkenalkan cucu tertuanya. Itulah pelayan yang tadi diliriknya dengan senyuman.

Saya terkejut bagaimana tidak. Seorang pejabat BUMN memilih makan malam dengan sangat sederhana walau itu bukan dia yang bayar. Ditambah lagi, salah satu pelayan restoran itu adalah cucunya. Dapatkah dibayangkan bila salah satu pejabat BUMN kita yang dengan bangganya memperkenalkan cucunya sebagai pelayan restoran ? Rasanya tidak mungkin terjadi dinegeri ini. Karena yang selalu mendapatkan limpahan nikmat dari kekuasaan selalu keluarga terdekat. Tapi ini tidak terjadi di China. Pejabat China itu telah memberikan pelajaran berharga kepada dirinya sendiri dan juga kepada cucunya. Bahwa jabatan atau kekuasaan bukanlah cara untuk hidup bermewahan dan berbangga diri. Tapi suatu pengabdian dengan ikhlas untuk dihormati secara pantas.

Dinegeri ini , kita selama ini kerap dipertontonkan oleh perilaku petinggi negara, politisi, dan birokrat yang nepotik, kolutif, koruptif, dan acap berlaku sebagai rent seekers. Perilaku ini jelas mencerminkan lemahnya etos pejabat sebagi abdi rakyat (public servant). Rakyat pun kerap melihat pengabdian politik para elite bukan ditujukan untuk melayani mereka, namun diabdikan untuk jabatan, uang, dan kemewahan hidup. Mengutip teori hierarchy of needs-nya Abraham Maslow (1954), para pejabat tinggi negara sepatutnya tak lagi berada dalam level basic needs (pangan, sandang, papan, uang, rasa aman, dan seterusnya), namun motivasi atas jabatan yang disandangnya seharusnya dilatari oleh kebutuhan untuk aktualisasi diri (self-fulfillment), yakni pengadian pada umat, bangsa, dan negara.

Dua minggu lalu ketika rapat dengan DPR, Jaksa Agung sempat mengatakan bahwa reformasi kejaksaan hanya akan berhasil bila gaji jaksa dinaikan. Untuk itu diperlukan tidak kurang dari Rp. 10 trilun dana untuk mereformasi kejaksaan. Inilah ujud dari budaya yang salah. Memaknai pengabdian dari sisi uang semata. Padahal reformasi kejaksaan atau aparat hukum adalah reformasi mental aparat. Hidup bemewah mewah dan menilai rating sukses dari harta yang didapat adalah budaya yang mengakibatkan korupsi sulit dibrantas. Hingga sampai pada pemikiran bahwa korupsi itu terjadi karena gaji aparat yang rendah. Selagi pemikiran ini tidak bisa dirubah maka selama itupula pembrantasan korupsi tidak akan efektif. Harus ada budaya untuk hidup sederhana bagi siapa saja utamanya pejabat yang mendapat amanah.

Apakah kunci dari kesediaan untuk hidup sederhana dan tidak bermewah mewah itu. Ternyata kuncinya adalah kemampuan mengelola nafsu. Kesederhanaan adalah kekuatan sejati untuk membuat keseimbangan dalam diri seseorang. Sederhana bukanlah menzolimi diri tapi kehandalan mengelola diri dan menguasai diri sendiri. Ritual haji hakikatnya adalah kesederhanaan. Para sufi melatih dirinya mencapai ma’rifat melalui kesederhanaan Proses kematangan diri selalu berangkat dari kesederhanaan.

Bila penghasilan anda besar tapi pengeluaran tak terkendali yang berakibat minus hingga harus korupsi maka akan lebih miskin ( secara moral ) dari orang yang pnghasilannya rendah namun dapat mengendalikan pengeluarannya untuk surplus ( kaya moral ). Jadi semuanya kembali kepada kemampuan mengelola diri, yang berujung pada kehormatan hakiki tanpa harus dikemas dengan materi yang mudah dimakan waktu.

Monday, November 9, 2009

Mafia ?

Mafia itu hanya ada di Italia. Kata mafia sendiri diambil dari bahasa Sisilia Kuno , Mafiusu. Konon katanya berasal dari kata arab ”mahyusu” yang artinya tempat perlindungan. Para penegak hukum telah menjadi tempat berlindung yang aman bagi para pelaku kejahatan baik tradisional maupun sistematis. Hebatnya cara perlindungan ini telah menjelma sebagai sebuah organisasi yang tak nampak. Namun terorganisir dengan baik. Keberadaan makelar kasus adalah bagian dari organisasi system perlidungan itu sendiri. Hingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa inilah negeri yang penegak hukumnya hidup mewah dari para kriminal

Mafia peradilan sudah lama menggrogoti sistem peradilan nasional. Sistem peradilan kita yang tidak efektif dan mekanisme yang tidak jalan telah melahirkan demoralisasi sehingga muncul keadaan ini. Praktek ini tidak hanya melibatkan instansi atau aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, melainkan juga sebagian advokat atau penasihat hukum. Lebih menyedihkan lagi, sekarang ini, saksi ahli pun diduga bisa dibeli oleh pengacara agar bisa memberikan kesaksian sesuai pesanan mereka.

Mengapa sampai terjadi ada istilah mafia peradilan ? Tak lebih karena sistem hukum yang banyak bolongnya ( Lophole ). Yang tahu percis dimana ada bolong itu , ya tentu aparat hukum, yang terdiri dari Pengacara, Polisi, Jaksa dan Hakim. Siapa yang membuat hukum itu , ya DPR yang mengesahkan UU berdasarkan usulan dari Pemerintah. Jadi kalau ditanya lingkaran Mafia peradilan maka tak bisa dilepaskan oleh sistem hukum itu sendiri. Keberadaan Makelar kasus tak bisa dipungkiri sebagai akibat dari system yang banyak bolongnya itu, yang memungkinkan uang mengalir deras kekantong aparat hukum.

Kalau SBY ingin membrantas mafia peradilan maka yang harus dilakukannya adalah mereformasi Kejaksaan, Polri. Ini harus menjadi agendanya. Perseteruan antara KPK dan Polri harus dijadikan momentum untuk mereformasi POLRI, Kejaksaan. KPK , MK, MY adalah anak kandung reformasi, Tidak ada yang salah dari lembaga ini. Jangan sampai buruk rupa cermin dibelah. Jangan sampai karena segelintir oknum yang salah, lembaga ini dibubarkan atau dipasung kekuasaannya demi melahirkan keseimbangan dengan lembaga yang sudah ada. Bagaimanapun KPK adalah lembaga yang harus lebih kuat dari POLRI dan Jaksa. KPK anggotanya dipilih oleh DPR dan mendapatkan kekuasaan memberantas korupsi karena UU dan Tap MPR No. XI tahun 1999.

Kita akan melihat nanti kemana arah perseteruan antara KPK dan POLRI ini. Apabila ada revisi terhadap kekuasaan KPK lewat DPR yang diusulkan oleh Pemerintah maka tahulah kita bahwa amanah reformasi telah dikhianati secara sistematis. Tapi kalau perseteruan ini melahirkan reformasi total terhadap POLRI dan Kejaksaan maka SBY akan dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang berhasil menempatkan lembaga peradilan sebagai pengawal keadilan dan kebenaran untuk lahirnya kebaikan bagi seluruh rakyat. Pemimpin yang berniat baik kepada rakyat dan berjihad dengan sikapnya akan mendapatkan rahmat dari Allah. Dan kita bisa berharap ditengah awan gelap ekonomi dunia saat ini, kita akan ” bisa” melewatinya dengan baik karena ridho Allah ada pada pemimpin yang amanah...

Saturday, November 7, 2009

Jiang Ching


Yunhe atau Lan Ping atau Jiang Ching atau belakangan dikenal dengan madame Mao. Ketika kecil kakeknya menyebut dirinya sebagai “ Ayam merak diantara ayam kampung”. Wanita gemulai yang piawai menari diatas panggung teater. Hidup baginya adalah mengejar cinta dan untuk dicintai. Tiga kali berganti suami dan akhirnya menemukan makna cinta yang dicarinya pada diri mahasiswa pendiam. Mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan hari harinya di perpusatakaan. Akhirnya tidak membuat pria idamannya itu menjadi almamater karena gejolak revolusi rakyat tertindas lebih mengundangnya menjadi pria. Lantas bagaimana cintanya dengan Yunhe ?

Mao tidak pernah memahami cinta dari seorang wanita. Baginya wanita adalah pelengkap bahagia dan kalau bisa melahirkan anak anak untuk nya. Itu saja. Itu dirasakan oleh dua istrinya yang setia mengikutinya ditengah persembunyian kejaran Kao Min Tang. Mereka menerima diperlakukan Mao apa saja. Entah apakah mereka mencintai revolusi hingga memaklumi sikap Mao yang tak peduli kepada mereka. Atau hidup memang tidak punya pilihan. Ketika itu, Yunhe sudah berganti nama JIang Ching. Cintanya ada pada Mao, juga kepada komunis. Ini sikap hidupnya. Perjalanan waktu wanita tinggi langsing semampai kelahiran Shandong ini berhasil membuat Mao bertekuk lutut.

Karena sebuah cinta , Jiang Ming , tak bisa membiarkan kekasihnya menderita ditempat sunyi setelah perjuangan panjang dilaluinya untuk menjatuhkan Kao Min Tang. Jiang Ming, tak ingin kesedihan kekasihnya menyaksikan penderitaan rakyat. Apa artinya revolusi komunis bila rakyat yang ikut berjuang ternyata akhirnya dipinggirkan oleh kecongkakan para komrad partai yang berkuasa. Memang ada banyak Partai komunis didunia tapi membirkan paham kapitalis menindas rakyat , sama saja memberikan racun kepada Mao . “ Saatnya akan datang , sayang. Kita akan melawan semua ini. Tunggulah saatnya. Sabar “ Demikian Mao berkata kepada Jiang Ching . Kata kata itu meluncur begitu merasuk dalam relung hatinya. Setelah itu Mao tertidur. Jiang Ching berdiri dan menatap Mao dengan seksama. Dia baru menyadari bahwa “Perintah revolusi telah terlaksana dibalik kelambu.

Dihadapan para petinggi Partai Komunis dan Militer. Mao marah besar ketika dukungannya kepada siswa sekolah yang berlabelkan “ tentara merah “ dipertanyakan oleh para elite itu “ Apa yang dilakukan oleh Tentara Merah adalah apa yang diinginkan oleh rakyat china. Ini operasi mental yang melibatkanya seluruh rakyat. Kita butuh kekacauan. Benar benar kekacauan. Kekerasan hanyalah satu satunya jalan untuk lahirnya perubahan. China baru hanya akan lahir dari abu yang lama.”

Disuatu pagi Jiang Ching membungkuk dan melihat sekilas kearah Mao yang sedang asik membaca surat dari PM Zhou tentang kematian Wakil Ketua Liu Shao Qi. “Para mahasiswa telah menginterogasinya selama 3 hari berturut turut tanpa istirahat sama sekali. Mendapat pukulan keras dan terluka..Infeksi kantung kencingnya memburuk. Deman terus menerus. Tubuhnya kehilangan kendali. Tempat tidurnya terus basah. Ia dikurung dalam ruangan kecil tanpa makanan dan air minum. Dia mati karena pneumonia dan konplikasi lainnya. “ Usai membaca itu. Mao menghembuskan asap rokoknya. Pencetus kapitalis dan tuan tanah telah tersingkirkan. Jiang Ching tersenyum.

Selanjutnya Revolusi Kebudayaan bergerak lebih luas. Jiang Ching tampil semakin lincah bagai penari teater menuju akhir babaknya. China diliputi kegegelapan sampai Mao wafat dan digantikan oleh Deng Xio Ping. Tapi selama Revolusi Kebudayaan, china berhasil membangun infrastruktur pertanian yang kuat dan menjadikan 90% rakyat china melek baca dan berhitung. Deng tampil untuk meluruskan bukan menyalahkan. Mao tetaplah bapak bangsa bagi Chna. Jiang Ching , dengan kelompok empatnya ditahan. Tapi Jiang Ching meninggal bukan karena dihukum oleh Deng tapi di hukum oleh putrid tunggalnya . Dia kehilangan cinta dari putrinya dan menyudahi hidupnya dengan seutas tali.

Mengingat Mao , seakan mengingat Revolusi Kebudayaan , Revolusi Komunis yang bau amis darah. Ini terus diingatkan kepada rakyat dan penguasa china kini. Bahwa membiarkan perbedaan kelas karena tidak adilan hanya akan menimbulkan amarah…selalu bau amih darah. China tidak pernah lupa akan sejarahnya …dan hidup dalam bayang gelap sajarah itu untuk terus berjuang menegakan keadilan bagi rakyat agar “amarah” tak terulang lagi…

Begitulah China yang sangat beda dengan kita. Yang mudah sekali lupa dengan sejarah. Padahal sejarah mencatat bahwa Proklamasi Kemerdekaan, lahirnya orde baru, dan reformasi selalu bau amis darah.. Semua karena tuntutan keadilan. Sebagian kita gamang bila terjadi pergolakan dan perlawanan kelas tapi kebanyakan kita lupa bahwa kita sendiri ikut menciptakan proses itu terjadi..Sejarah mencatat bahwa hanya butuh kekuatan kecil yang mampu memberi komando dan teroganisir sudah cukup membuat api dalam sekam menjadi api raksasa…sadarlah sebelum terlambat…