Monday, September 14, 2009

Berbuat

Dtengah krisis global. Ditengah suplai berang berlebih dengan kekuatan serapan pasar semakin menyempit. Ditengah likuiditas yang mengetat dan sektor riel uyang melambat pertumbuhannya. Begitulah sambutan bagi para anggota DPR yang sebentar lagi akan berkantor di Senayan. Mereka para elite bangsa yang terpilih oleh lebih seratus juta rakyat dipelosok negeri. Korsi empuk memang menanti. Namun keadaan tidak seperti sejuknya AC Senayan. Karena APBN tidak sekokoh sebelumnya. Sumber pendapatan berupa pajak semakin menurun. Nilai eksport semakin lemah menopang pengumpulan devisa. Yang masih nampak longgar bernapas adalah kebebasan financial untuk terus berhutang. Sumbernya masih terbuka walau semakin mahal ongkosnya.

Keadaan kedepan tidak mudah. Begitu berat tantangan yang akan dihadapi. Commitment billateral maupun multilateral untuk tergabungnya negara kedalam pasar bebas regional harus dihadapi. Kita tidak tahu kebijakan pintar apa yang akan diperbuat oleh anggota DPR itu nanti. Enam puluh persen dari mereka adalah wajah baru, yang tak punya pengalaman international., tak memahami visi negarawan, tak punya multi visi . Mereka hadir karena takdir dari keberadaan demokrasi. Orang memilih dan mereka terpilih. Soal bagaimana proses terjadi, itu tak penting lagi. Yang pasti mereka elite dan semua harapan ada dipundak mereka.

Saya tidak mau berpikir negatif tentang para elite ini. Tak ada gunanya kita terus mengutuki keadaan tanpa berbuat apa apa. Yang harus dipahami bahwa mereka ada karena kita. Terlalu tolol bila kita bergantung dengan elite ini. Sudah cukup sekian puluh tahun kita bergantung kepada elite tapi akhirnya kepentingan kelas yang mereka bela. Buka rakyat. Saya lebih memilih untuk berbuat dalam diam. Atau istilah yang dipakai adalah Silent revolution. Ini didasarkan bahwa apapun yang kita perbuat selagi untuk kepentingan orang banyak dan tidak melanggar hukum, para elite itu tidak akan berani untuk menghalangi.Bahkan mereka akan mendukung untuk mengamankan korsinya dipemilihan berikutnya.

Konspirasi pengusaha besar baik berkelas lokal mapun transnasional tetap akan terjalain apik dengan para elite itu. Tidak usah dipikirkan. Banyak contoh konspirasi itu hanya berhasil dilevel atas. Di level bawah, akan berhadapan dengan kekuatan silent revolution. Contoh, Project Cepu yang di pegang Exxon. Walau mereka menguasai konsesi blok minyak tapi tak berdaya ketika berhadapan dengan pemilik tanah. Rakyat tidak mau menjualnya. Titik. Investasi terpaksa membengkak menjadi tiga kali lipat karena harus mengeluarkan dana untuk memasang pipa ke lokasi sumur. Banyak lagi contoh kekuatan loby business dan politik , akhirnya tak menghasilkan apa apa. Lambat laun ini akan mengurangi nilai loby itu sendiri. Elite tak lagi punya harga untuk dibeli..

Salah satu penasehat investasi di US pernah berkata kepada saya ” di negeri anda , Loby politik boros , melelahkan dan hasilnya tidak seperti ketika zaman Soeharto ” Saya senang penilaian orang asing terhadap iklim investasi di Indonesia seperti itu. Ini sama saja mereka yang menebar demokrasi dan mereka pula yang kecewa karena demokrasi telah menjadikan kekuasan menjadi tak terkendali , berada disemua orang, terstruktur secara sytematis. Yang lebih membuat ikatan kekuasaan menggurita sampai tak terbatas adalah sikap yang tidak konsistan sebagai budaya lawan menjadi kawan dan sebaliknya. Tidak jelas lagi siapa yang harus dipercaya dan dicurigai. Dalam situasi ini, apakah ada pemilik modal mau tanamkan uang ? apalagi bila berpikir quick yielding..Kecuali yang nekat ,seperti Osama Bin Laden itupun investasinya di Papua.

Keadaan system politik negeri kita telah membuat konsep global dan regional pengembagan ekonomi menjadi mandul. makro ekonomi yang berorientasi global hanyalah jargon belaka. Keadaan ini akan memicu lahirnya komunitas baru yang jauh dari ring kekuasan dan hiruk pikuk pasar bebas. Jauh dari rencana nasional maupun regional. Komunitas ini lahir dari masyarakat tertindas. Akrab lahir batin dengan masyarakatnya. Mereka anak muda yang peduli , terlatih dalam berbuat, sadar perlunya pengorbanan mencapai sesuatu, mereka terikat hukum formal namun langkah mereka mengikat hukum moral lintas kelas.. Dari mereka akan lahir masyarakat yang mandiri namun tidak menyepi. Memang upaya ini tidak mudah namun setidaknya jalan telah terbentuk untuk orang lain mengikutinya, termasuk saya...

Semoga.

0 comments: