Monday, November 9, 2009

Mafia ?

Mafia itu hanya ada di Italia. Kata mafia sendiri diambil dari bahasa Sisilia Kuno , Mafiusu. Konon katanya berasal dari kata arab ”mahyusu” yang artinya tempat perlindungan. Istilah Mafia dipakai oleh SBY dalam 100 hari program kabinetnya, yang menegaskan memandang keberadaan mafia peradilan telah merusak keadilan dan kepastian hukum. Selain itu, para mafia peradilan, baik langsung maupun tak langsung, telah menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat. Apa yang menjadi keinginan dari SBY adalah juga keinginan rakyat . Jatuhnya rezim Soeharto karena mafia peradilan yang telah sampai mengikis rasa keadilan dan merusak sendi sendi kehidupan sosial ekonomi rakyat.

Mafia peradilan sudah lama menggrogoti sistem peradilan nasional. Sistem peradilan kita yang tidak efektif dan mekanisme yang tidak jalan telah melahirkan demoralisasi sehingga muncul keadaan ini. Praktek ini tidak hanya melibatkan instansi atau aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, melainkan juga sebagian advokat atau penasihat hukum. Lebih menyedihkan lagi, sekarang ini, saksi ahli pun diduga bisa dibeli oleh pengacara agar bisa memberikan kesaksian sesuai pesanan mereka.

Mengapa sampai terjadi ada istilah mafia peradilan ? Tak lebih karena sistem hukum yang banyak bolongnya ( Lophole ). Yang tahu percis dimana ada bolong itu , ya tentu aparat hukum, yang terdiri dari Pengacara, Polisi, Jaksa dan Hakim. Siapa yang membuat hukum itu , ya DPR yang mengesahkan UU berdasarkan usulan dari Pemerintah. Jadi kalau ditanya lingkaran Mafia peradilan maka tak bisa dilepaskan oleh sistem hukum itu sendiri. Keberadaan Makelar kasus tak bisa dipungkiri sebagai akibat dari system yang banyak bolongnya itu, yang memungkinkan uang mengalir deras kekantong aparat hukum.

Kalau SBY ingin membrantas mafia peradilan maka yang harus dilakukannya adalah mereformasi Kejaksaan, Polri. Ini harus menjadi agendanya. Perseteruan antara KPK dan Polri harus dijadikan momentum untuk mereformasi POLRI, Kejaksaan. KPK , MK, MY adalah anak kandung reformasi, Tidak ada yang salah dari lembaga ini. Jangan sampai buruk rupa cermin dibelah. Jangan sampai karena segelintir oknum yang salah, lembaga ini dibubarkan atau dipasung kekuasaannya demi melahirkan keseimbangan dengan lembaga yang sudah ada. Bagaimanapun KPK adalah lembaga yang harus lebih kuat dari POLRI dan Jaksa. KPK anggotanya dipilih oleh DPR dan mendapatkan kekuasaan memberantas korupsi karena UU dan Tap MPR No. XI tahun 1999.

Kita akan melihat nanti kemana arah perseteruan antara KPK dan POLRI ini. Apabila ada revisi terhadap kekuasaan KPK lewat DPR yang diusulkan oleh Pemerintah maka tahulah kita bahwa amanah reformasi telah dikhianati secara sistematis. Tapi kalau perseteruan ini melahirkan reformasi total terhadap POLRI dan Kejaksaan maka SBY akan dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang berhasil menempatkan lembaga peradilan sebagai pengawal keadilan dan kebenaran untuk lahirnya kebaikan bagi seluruh rakyat. Pemimpin yang berniat baik kepada rakyat dan berjihad dengan sikapnya akan mendapatkan rahmat dari Allah. Dan kita bisa berharap ditengah awan gelap ekonomi dunia saat ini, kita akan ” bisa” melewatinya dengan baik karena ridho Allah ada pada pemimpin yang amanah...

Saturday, November 7, 2009

Jiang Ching


Yunhe atau Lan Ping atau Jiang Ching atau belakangan dikenal dengan madame Mao. Ketika kecil kakeknya menyebut dirinya sebagai “ Ayam merak diantara ayam kampung”. Wanita gemulai yang piawai menari diatas panggung teater. Hidup baginya adalah mengejar cinta dan untuk dicintai. Tiga kali berganti suami dan akhirnya menemukan makna cinta yang dicarinya pada diri mahasiswa pendiam. Mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan hari harinya di perpusatakaan. Akhirnya tidak membuat pria idamannya itu menjadi almamater karena gejolak revolusi rakyat tertindas lebih mengundangnya menjadi pria. Lantas bagaimana cintanya dengan Yunhe ?

Mao tidak pernah memahami cinta dari seorang wanita. Baginya wanita adalah pelengkap bahagia dan kalau bisa melahirkan anak anak untuk nya. Itu saja. Itu dirasakan oleh dua istrinya yang setia mengikutinya ditengah persembunyian kejaran Kao Min Tang. Mereka menerima diperlakukan Mao apa saja. Entah apakah mereka mencintai revolusi hingga memaklumi sikap Mao yang tak peduli kepada mereka. Atau hidup memang tidak punya pilihan. Ketika itu, Yunhe sudah berganti nama JIang Ching. Cintanya ada pada Mao, juga kepada komunis. Ini sikap hidupnya. Perjalanan waktu wanita tinggi langsing semampai kelahiran Shandong ini berhasil membuat Mao bertekuk lutut.

Karena sebuah cinta , Jiang Ming , tak bisa membiarkan kekasihnya menderita ditempat sunyi setelah perjuangan panjang dilaluinya untuk menjatuhkan Kao Min Tang. Jiang Ming, tak ingin kesedihan kekasihnya menyaksikan penderitaan rakyat. Apa artinya revolusi komunis bila rakyat yang ikut berjuang ternyata akhirnya dipinggirkan oleh kecongkakan para komrad partai yang berkuasa. Memang ada banyak Partai komunis didunia tapi membirkan paham kapitalis menindas rakyat , sama saja memberikan racun kepada Mao . “ Saatnya akan datang , sayang. Kita akan melawan semua ini. Tunggulah saatnya. Sabar “ Demikian Mao berkata kepada Jiang Ching . Kata kata itu meluncur begitu merasuk dalam relung hatinya. Setelah itu Mao tertidur. Jiang Ching berdiri dan menatap Mao dengan seksama. Dia baru menyadari bahwa “Perintah revolusi telah terlaksana dibalik kelambu.

Dihadapan para petinggi Partai Komunis dan Militer. Mao marah besar ketika dukungannya kepada siswa sekolah yang berlabelkan “ tentara merah “ dipertanyakan oleh para elite itu “ Apa yang dilakukan oleh Tentara Merah adalah apa yang diinginkan oleh rakyat china. Ini operasi mental yang melibatkanya seluruh rakyat. Kita butuh kekacauan. Benar benar kekacauan. Kekerasan hanyalah satu satunya jalan untuk lahirnya perubahan. China baru hanya akan lahir dari abu yang lama.”

Disuatu pagi Jiang Ching membungkuk dan melihat sekilas kearah Mao yang sedang asik membaca surat dari PM Zhou tentang kematian Wakil Ketua Liu Shao Qi. “Para mahasiswa telah menginterogasinya selama 3 hari berturut turut tanpa istirahat sama sekali. Mendapat pukulan keras dan terluka..Infeksi kantung kencingnya memburuk. Deman terus menerus. Tubuhnya kehilangan kendali. Tempat tidurnya terus basah. Ia dikurung dalam ruangan kecil tanpa makanan dan air minum. Dia mati karena pneumonia dan konplikasi lainnya. “ Usai membaca itu. Mao menghembuskan asap rokoknya. Pencetus kapitalis dan tuan tanah telah tersingkirkan. Jiang Ching tersenyum.

Selanjutnya Revolusi Kebudayaan bergerak lebih luas. Jiang Ching tampil semakin lincah bagai penari teater menuju akhir babaknya. China diliputi kegegelapan sampai Mao wafat dan digantikan oleh Deng Xio Ping. Tapi selama Revolusi Kebudayaan, china berhasil membangun infrastruktur pertanian yang kuat dan menjadikan 90% rakyat china melek baca dan berhitung. Deng tampil untuk meluruskan bukan menyalahkan. Mao tetaplah bapak bangsa bagi Chna. Jiang Ching , dengan kelompok empatnya ditahan. Tapi Jiang Ching meninggal bukan karena dihukum oleh Deng tapi di hukum oleh putrid tunggalnya . Dia kehilangan cinta dari putrinya dan menyudahi hidupnya dengan seutas tali.

Mengingat Mao , seakan mengingat Revolusi Kebudayaan , Revolusi Komunis yang bau amis darah. Ini terus diingatkan kepada rakyat dan penguasa china kini. Bahwa membiarkan perbedaan kelas karena tidak adilan hanya akan menimbulkan amarah…selalu bau amih darah. China tidak pernah lupa akan sejarahnya …dan hidup dalam bayang gelap sajarah itu untuk terus berjuang menegakan keadilan bagi rakyat agar “amarah” tak terulang lagi…

Begitulah China yang sangat beda dengan kita. Yang mudah sekali lupa dengan sejarah. Padahal sejarah mencatat bahwa Proklamasi Kemerdekaan, lahirnya orde baru, dan reformasi selalu bau amis darah.. Semua karena tuntutan keadilan. Sebagian kita gamang bila terjadi pergolakan dan perlawanan kelas tapi kebanyakan kita lupa bahwa kita sendiri ikut menciptakan proses itu terjadi..Sejarah mencatat bahwa hanya butuh kekuatan kecil yang mampu memberi komando dan teroganisir sudah cukup membuat api dalam sekam menjadi api raksasa…sadarlah sebelum terlambat…

Friday, October 30, 2009

Kita bisa !

Kalau Tiongkok bisa, kitapun Bisa. Itulah ungkapan motivasi president kepada kita semua. Bahwa ”kita bisa ” untuk memacu investor menanamkan dananya dibumi pertiwi. Tiap negara punya cara sendiri untuk menarik investor tapi lebih daripada itu keunggulan suatu negara ditentukan bukan oleh sumber daya alamnya tapi oleh kemampuan negara menciptakan system dimana terjadinya keseimbangan antar pelaku ekonomi dan akhirnya keadilan bagi siapa saja. Kita bisa dan pasti bisa. Karena sedari awal ketika negara ini didirikan , platform untuk unggul dalam putaran waktu sudah ditetapkan tapi karena waktu pula kita tersilaukan oleh pemikiran dari barat dan akhirnya kita "tak pernah bisa "

Hampir semua investor asing yang menanamkan dananya di China diberbagai bidang, Industri bila ditanya alasannya berinvestasi di China maka jawabannya selalu sama ” Bahan baku yang murah dan cepat didapat serta SDM yang tersedia dan murah untuk semua level. ” Yang jadi pertanyaan adalah kalau semua didapat dengan murah mengapa mereka tidak menjual mahal seperti harga barang yang sama diproduksi di AS. ? Hal ini bagi penganut paham kapitalisme dimana berkorban semurah murahnya dan menjual setinggi tinggi nya maka akan bingung atau terasa aneh. Tapi begitulah sebuah system yang dicreate oleh Pemerintah China membuat produsen harus menjual murah barangnya demi memanjakan konsumen. Atau mereka akan tesingkir oleh kompetisi terbuka.

Apakah yang membuat ekonomi pasar dapat berkeja efektif di China? Ternyata kuncinya adalah keadilan distribusi modal.. Dimana negara menjamin distribusi modal secara efektif bagi siapa saja. Distribusi modal itu tidak melulu dalam bentuk uang atau kredit bank tapi bisa juga dalam bentuk barang dan jasa. Industri hulu sebagai bahan baku industri disubsidi oleh negara. Begitupula Infrastruktur business sebagai pendukung kelancaran barang dan jasa juga di subsidi oleh negara. Pusat riset dan pendidikan di subsidi agar dapat menghasilkan SDM yang berkualitas. Negara sangat berkuasa untuk mengendalikan dengan ketat agar memungkinkan siapapun ( termasuk asing ) dapat menikmatinya secara adil Dengan kondisi ini maka investor asing yang menanamkan dananya di China terpaksa harus menyesuaikan harga produksinya untuk dilempar kepasar. Atau pengusaha lain akan menggilasnya.

Secara presentase tidak ada pengurangan laba atas system ini tapi justru memanjakan konsumen mendapatkan barang dengan harga murah.Negarapun mendulang pajak tak terbilang oleh produksi yang melimpah dan konsumi yang meningkat. Semua pihak yang terlibat dalam proses produksi berorientasi kepada kepentingan konsumen tanpa mengurangi kualitas sama sekali. Itulah yang disebut dengan ekonomi pasar yang berkeadilan.Produsen untung dan konsumen senang Bila konsumen dibela maka buruh yang juga konsumen akan mendapat imbal hasil yang lebih baik. Atau index pendapatan dan pengeluarannya selalu positip. Mereka dapat menabung untuk keperluan jaminan sosialnya. Dari data , terbukti walau upah yang diterima oleh buruh china jauh lebih kecil dibandingkan buruh di AS, Eropa, Jepang, Korea namun index kesejahteraan buruh China jauh lebih tinggi. Di China ,tidak ada standarisasi harga seperti MC Donald. Hebatnya mekanisme pasar juga membuat flexible harga sesuai dengan Pendatan kotor wilayah di china. Semakin tinggi semakin mahal, semakin rendah semakin murah.Benar benar adil.

Itulah strategy China untuk menjamin pasar manja dan pada gilirannya publik yang di untungkan. Sebetulnya kita telah menerapkan itu ketika Era Soeharto Dimana BUMN sebagai alat negara untuk menjamin distribusi bahan baku dan uang bagi siapa saja. Tidak ada diskriminasi atau pengotakan yang miskin dapat dan yang kaya tidak. Namanya system maka harus mampu melahirkan dampak berganda dan berspektrum luas untuk memperkokoh fundamental ekonomi rakyat secara keseluruhan. Secara strategy sudah benar tapi yang kurang adalah pelaksanaannya yang tak terkendali akibat KKN hingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi Yang harus diperbaiki adalah SOP-nya bukan merubah strategy dengan menjual BUMN kepada Asing. Di China ketika reformasi Deng, SOP dirubah dengan penekanan anti korupsi dan cost and reward .

Seharunya Era setelah kejatuhan Soeharto , pemerintah melakukan reformasi BUMN lewat perbaikan SOP dan penajaman target sesuai dengan grand strategy nasional untuk kepentingan rakyat luas. Menjual BUMN ( industri strategis ) dan mem privatisasi layanan Publik adalah pemikiran tak visioner ( oportunis ). Tidak ada istilah terlambat. Tak ada salahnya kembali kepada hakikat UUD 45 pasal 33 secara murni dan melaksanakan law enforcement secara adil agar ”kita bisa” meniru China atau bisa lebih baik dari Chinauntuk menuju lompatan jauh kedepan.

Thursday, October 22, 2009

Siti Fadilah Supari

Siti Fadilah Supari. Itulah namanya. Dia seorang wanita dan berkarir sebagai dokter setelah menamatkan Fakultas Kedokteran UI.. Sebelum menjadi menteri Ia dikenal luas sebagai periset spesialis Jantung /penyakit jantung. Pernah bertugas sebagai Kepala Pendataan dan Penelitian (Pusdalit) Rumah Sakit Jantung, Harapan Kita.. Peraih S3 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Jakarta, 1996. Yang menarik tentang Siti Fadilah Supari adalah naluri keibuanya lebih dominant dibanding naluri politisi dalam menghadapi semua masalah yang berkaitan dengan beban tugasnya sebagai menteri. Ketika pertama kali dilantik, dia sudah langsung berkata kepada publik tentang rencana kerjanya untuk menjadikan Rumah Sakit dan kesehatan bukan sebagai komoditas komersial tapi misi sosial. Untuk itu dia bertekad hati untuk membangun sistem pelayanan rumah sakit yang murah.

Dia tidak pernah berpikir jauh bila akibat dari tekadnya akan menghadapi perang terbuka dengan kekuatan globalisasi , TNC dibidang industri pharmasi. Mereka menguasai pengaruh hampir disemua lembaga multilateral. Karena ini menyangkut businss triliunan dollar. Tekad menjadikan Rumah sakit dan kesehatan sebagai misi sosial itu terus dijalankannya tanpa peduli dengan segala tekanan. Ketika upayanya menghadapi tantangan dari system kekuasaan didalam maupun diluar negeri, naluri keibuaannya makin bangkit untuk melawan dibatas akal sehatnya. Lembaga Multilateral seperti WHO , dikritik kerasnya sebagai sumber reproduksi virus H5N1 untuk menguntungkan sindikat industri pharmasi kelas dunia. Tidak sampai pada kritis tapi berlanjut dalam perundingan tingkat global hingga terjadi reformasi ditubuh WHO. Ini luar biasa. Dia sudah menjadi negosiator yang andal. Diplomat yang ulung

Sebagai Ibu, dia berjuang layaknya Cut Nyak Dien yang tahu betul siapa dalang kemunduran bangsanya. Dalam setiap kesempatan dia berkata lantang kepada siapapun tentang kejahatan sistematis industri pharmasi yang berlindung dibalik Lembaga Multilateral. Dalam satu forum dia pernah berkata bahwa Amerika paling takut dengan kaum muslimin tapi kita takut duluan. Putri Kiai ini menggunakan kesempatannya mengemban amanah bangsa tidak hanya sebatas jabatannya sebagai menteri kesehatan tapi lebih daripada itu dia tampil sebagai negarawan yang melawan segala hegemoni asing untuk menganeksasi bangsanya. Baginya globalisasi adalah bentuk lain dari penjajahan cara baru. Dimana hegemoni negara kuat menindas negara yang lemah

Dalam satu forum pada acara peluncunran bukunya yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah; Tangan Tuhan di Balik Flu Burung”. Dia berkata dengan lantang “Tatanan globalisasi yang seperti sekarang ini adalah globalisasi yang hegemonik. Globalisasi negara kuat menindas negara yang tidak kuat. Ini tidak sehat untuk dunia. Maka solusinya harus adil, harus transparan dan harus setara.”Diapun menambahkan penjajahan berbentuk globalisasi ini sudah masuk secara total dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi negeri kita. Hal ini tidak bisa dilepas dari ideologi kapitalistik. Oleh karenanya perlawanan harus dilakukan secara ideologis pula. Dan umat Islam punya senjata yang luar biasa. “Sebetulnya ideologi Islam yang paling lengkap,” katanya dengan tegas.

Sebagai sebuah perjuangan yang panjang. Dia telah melewatinya dengan gagah berani. Dia tidak peduli karena sikapnya dia tidak populer diantara teman temannya, juga atasannya.. Dia tidak peduli bila pada akhirnya dia harus tersingkir dari arena. Tak ada kekalahan bagi petarung seperti dia. Tidak ada. Namanya akan abadi bagi pejuang keadilan dalam tatanan global. Lagi , seorang srikandi , seoran Cut Nyak Din tersungkur ditanahnya sendiri oleh kekuatan asing.