.
Sebenarnya kalau BUMN merugi direksi nya tidak sepenuhnya salah. Mereka hanya menjalankan program dari pemerintah. Dari awal PT. KAI sudah menolak Kereta Cepat karena alasan tidak feasible. Tapi setelah loan ditanda tangani oleh konsorsium proyek, resiko dialihkan kepada PT. KAI sebagai operator dan negara terlibat sebagai penjamin. Apa bisa direksi PT. KAI menolak? kan engga. Walau biaya proyek membengkak ( cost overrun) dan tanpa FS yang benar, sampai kapanpun PT KAI akan terus merugi bayar bunga namun itu harus direksi jalankan.
Pertamina dapat penugasan dari pemerintah untuk menyediakan BBM dalam negeri. Padahal penugasan itu perlu financial resource. Dan pemerintah tidak sediakan. Mau tidak mau-tanpa bargain-Pertamina melibatkan pihak luar dari sejak pengadaan BBM sampai kepada logistic dan distribusi. Dari sinilah moral hazard terjadi. Markup angkutan, kilang dan logistic. Itu kata lain dari skema pembiayaan lack financial resource. Sudah pasti engga bisa berkembang. Walau market monopoli, tetap saja laba tidak worth it.
BUMN karya dapat penugasan membangun jalan Toll, Pelabuhan dan Bandara. Itu proyek non APBN atau PPP. Engga ada uang dari pemerintah. Mereka tidak punya bargain kepada financial resource atau investor institusi karena proyek sudah rente saat direncanakan. Ya mau engga mau, BUMN Karya cari solusi. Lagi lagi caranya berhutang secara konvensional. Karena struktur permodalan tidak sehat, ya jelas saja tidak efisien. Apalagi hampir semua BUMN karya bekerja overload. Pasti tidak bisa well organise. Makanya wajar bila semua merugi dan terjebak hutang gigantic.
Kalau diukur berdasarkan rasio ROA ( return on asset). Perbankan BUMN dibandingkan dengan BCA atau Bank Asing, jelas Bank BUMN kalah jauh. Mengapa ? Begitu besar penugasan pemerintah. Ambil contoh aja. Restruktur utang Garuda Indonesia sebesar Rp. 16,4 triliun kepada Bank BUMN di reschedule 22 tahun dengan bunga 0,1% per tahun. Itu sama saja bailout bukan restruktur. Anggap Bank BUMN hanya sebagai kasir, bukan sebagai solution provider. Banyak lagi kasus penugasan pemerintah yang pada akhirnya merugikan bank BUMN.
Apa yang saya paparkan diatas , secara sederhana bisa kita pahami bahwa BUMN merugi dan tidak efisien karena struktur bisnis tidak sehat. Dalam situasi ini BUMN dipaksa menciptakan laba. Itu kan mission impossible. Jangan jangan laba yang dilaporkan itu hanya window dressing. Buying time aja. Apapun upaya transformasi terhadap BUMN tidak akan jalan tanpa struktur bisnis yang kuat. Engga mungkin orang professional dan punya kompetensi tinggi mau jadi Direksi kecuali memang low class.
Nah karena kita tahu problem BUMN. Maka yang menjadi focus adalah bukan menyediakan modal. Tapi menyediakan akses kepada sumber daya keuangan. Dengan kondisi BUMN yang ada sekarang, sulit dapatkan sumber daya keuangan. Berapapun modal ditambah, pasti akan habis aja. Sama seperti menggarami laut. Jadi langkah apa yang harus dilakukan pemerintah sebagai pemegang saham?
Pertama. Pemerintah harus restruktur bisnis BUMN. Tidak lagi hanya profit oriented kejar setoran kepada APBN lewat PNBP. Tetapi focus kepada business model. Apa business model itu ? sesuai dengan amanah UUD 45 pasal 33. Tidak perlu masuk ke semua bidang. BUM focus kepada yang terkait dengan bumi, tanah, air dan udara saja. Tutup semua asing / swasta yang terlibat langsung dengan sumber daya yang empat itu.
Kedua. Kemudian, cluster jadi empat bidang usaha. Cluster 1, BUMN khusus terkait dengan SDA seperti Minerba, Oil and gas. Cluster 2, BUMN khusus kelola tanah. Perkebunan besar atau estate food. Cluster 3, PAM dan konservasi air di seluruh Indonesia di kelola BUMN. Cluster 4. BUMN khusus kelola sumber daya frokuensi telp dan radio, internet. Di luar itu tidak perlu focus. Bila perlu BUMN yang nilai PSO ( public service obligation) nya dibawah 40% jual aja ke swasta. Diatas 40% dikelola dengan standar BULP, yang resiko nya ditanggung APBN.
Ketiga. Dengan aturan yang tegas dan konsisten terhadap sumber daya empat itu, business model akan tercipta dengan sendirinya. Tidak sulit melibatkan swasta asing maupun local secara tidak lansung dalam sinergi dan kolaborasi. Contoh, Pertamina menguasai SDA migas, itu akan menjadikan Pertamina lead terhadap business Migas. Otomatis investasi FDA/domestik dari adanya collaboration dan sinergi bidang jasa logisik, distribusi dan produksi akan menjadi bagian dari business model Pertamina. Siapa yang engga mau bisnis yang captive market.
Keempat. Harus pastikan kolaborasi dan sinergi itu terbangun atas dasar kemampuan mitra dalam hal tekhnologi dan financial, bukan politik dan oligarki dari pemain rente. Yakinlah, selagi proses penentuan mitra itu transfarance dan akuntable, akan banyak key player raksasa yang mau bergabung dalam ekosistem bisnis model dari empat cluster BUMN itu.
Kelima. Tentu dengan syarat BUMN perbankan harus di-merger jadi satu. Untuk apa banyak tapi loyo malah saling bersaing sesama mereka. Lebih baik satu tetapi kokoh dan lentur menghadapi kompetisi. Peran BUMN perbankan menyatu dalam business model yang empat tadi, perannya lebih sebagai supporting group saja. Misal bertindak sebagai boutique banking, investment banker, channeling fund agent dan financial advisory.
Demikian saran saya apa yang harus dilakukan pemerintah guna menata kembali BUMN. Apakah mungkin? Sangat mungkin. Apalagi dengan adanya BPI Danantara yang secara UU akan mudah melakukan restruktur BUMN dan sekaligus transformasi. Lakukan dengan diawali review ulang kompetensi direksi yang ada. Pastikan sesuai dengan business model yang akan dibangun. Jauhkan menegement dari Partai dan pemerintah agar para direksi bisa bekerja secara profesional. Focus aja terlebih dahulu kepada program transformasi daripada sibuk ngakali cari duit lewat financial engineering terhadap sumber daya BUMN yang ada sekarang.
Yakinlah, kalau program transformasi itu sukses, uang akan datang dengan sendirinya lewat ekosistem financial. Memang tidak bisa instant. Perlu waktu berproses dan kerja keras. Engga apa. Walau tidak akan selesai di era Prabowo. Yang penting kita awali dengan niat baik dan focus, itu sudah memberikan hope kepada generasi mendatang. Bahwa kita sudah berjalan di track yang benar.
Saya percaya YMP Prabowo punya semangat mengantarkan BUMN kita menjadi state capitalism berkelas dunia dan menjadi backbone negara melaksanakan visi dan misi state welfare. Semoga.